Nama : Rizky
Cahyo Prabowo
NRP : 4103141015
Kelas : 1 D3 MMB-A
Bukti
peninggalan majapahit :
1. Prasasti
Taji Gunung (910 M)
Berisi tentang penyebutan
dewa-dewa dengan “Om, Namassiwaya namo Buddhaya”. Artinya “Selamat,
bakti kepada Siwa dan Buddha.
2.
Prasasti
Kudadu (1294 M)
Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi
Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara
Yayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi raja dan bergelar Krtajaya
Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya
(Rama) diberi hadiah tanah sima.
3. Prasasti
Sutamrta (1296 M)
Pada lempeng Xa baris ke-dua dan
ke-tiga nama dewa disebut “Sri Maharaja, apan Sira Prabu dewa murti, wirinci
narayana santaratma”. Artinya “Sri Maharaja, karena beliau adalah seorang
raja penjelmaan dewa, yaitu Wirinci (Brahma), Narayana (Wisnu), Sankara (Siwa).
4. Prasasti
Singhasari (1351 M)
Berbunyi “komaktan . paduka
bhatara sang lumah ring siwa Buddha” yang artinya sang paduka sudah bersatu
dengan siwa Buddha.
5.
Prasasti
Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di
Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.
6.
Prasasti Waringin
Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga, Bhre Tanjungpura, Bhre Kembang Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura, Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Bhre Kahuripan, Bhre Pajang, Bhre Wengker, Bhre Wirabumi, Bhre Matahun, Bhre Tumapel, Bhre Jagaraga, Bhre Tanjungpura, Bhre Kembang Jenar, Bhre Kabalan, Bhre Singhapura, Bhre Keling, dan Bhre Kelinggapura.
7. Kitab
Sutasoma
Diceritakan bahwa Kalarudra,
seorang tokoh agama Hindu sangat murka kepada Sutasoma, seorang titisan Buddha
dan hendak memusnahkannya
8. Kitab
Nagarakrtagama
Dalam beberapa prasasti Majapahit yang memuat daftar dharmmaupapatti
para pejabat dapat dikelompokkankedalam golongan Buddha dan golongan
Siwa. Diantara beberapa upappati ada yang menjabat urusan sekte-sekte
tertentu seperti Bhairawapaksa, Saurapaksa, dan Siddhantapaksa. Pustaka
Kinjarakarna
Ditegaskan bahwa seorang pengikut
Siwa dan Buddha tidak dapat mencapai pelepasan jika ia memisahkan yang
sebenarnya satu, yaitu Siwa-Buddha.
9. Pustaka
Arjunawijaya
Ketika Raja Arjunawijaya memasuki
candi Buddha, para bhiksu menerangkan bahwa para Jina penunggu alam yang
digambarkan dalam patung-patung sama dengan para jelmaan Siwa. Wairacana sama
dengan Sadasiwa berada di timur, Ratnasambhawa sama dengan Brahma berada di
barat, dan Amoghasiddhi sama dengan Wisnu berada di utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar